![]() |
| sumber gambar : http://materisiana.com/ |
![]() |
| Sumber gambar : https://i1.wp.com/www.lahiya.com/ |
Contoh imajiner.
Si Fulan mempertanyakan kepada si Fulanah tentang beberapa ajaran agama seperti berjilbab, poligami, dll. Kemudian si Fulanah menanggapi dengan perkataan, “Dasar kamu kafir, sesat, penghuni neraka, …” atau yang semisalnya.
Diskusi seperti ini sangat tidak sehat karena si Fulanah bukannya menjawabnya dengan bijak, namun justru menyerang pribadi Fulan. Contoh percakapan ini imajiner karena ini imajinasi saya sendiri. Kasusnya di dunia nyata hampir tidak ada atau sangat jarang. Kalaupun ada, biasanya hanya ditemui di media sosial berupa akun abal-abal.
Contoh nyata.
Padahal
sejak awal tidak ada kata-kata itu keluar dari Si Fulanah. Namun karena si Fulan
terlalu mengedepankan emosi ketimbang akal sehat, muncullah tanggapan
sumbang ini. Akan lebih terhormat jika si Fulan menanggapinya dengan argumen
jika tidak setuju, bertanya jika tidak tahu, atau sekalian diam saja,
tidak usah menangggapi. Contoh yang satu ini riil dan saya sering
menyaksikan Si Fulanah menjelaskan secara panjang lebar kepada Si Fulan yang seorang pecandu rokok tentang keharaman rokok dengan dalil-dalilnya, ditambah bahayanya dari sisi kesehatan. Kemudian Si Fulan menimpali, “Ya sudahlah, memang bagimu aku ini orang pendosa, ahli maksiat, hina sehina-hinanya”, atau “Biarlah kalau kamu mau kavling surga. Biarkan saya masuk neraka”.
sumber : https://id.quora.com/

