Ternyata Selama Ini Kita Salah Paham Soal Growth Mindset

⏱️ Memuat estimasi...

Beberapa hari lalu, waktu saya ikut Aspire Leadership Program, ada satu sesi yang bikin saya diem agak lama.

Mentornya cuma nanya gini: "Kapan terakhir kali kita merasa gagal, tapi justru kita tutup-tutupin kegagalan itu karena takut keliatan gak kompeten?"

Jleb.

Dari situ dibahaslah satu materi yang ternyata jadi akar dari banyak masalah kita di kerjaan, di bisnis, bahkan di keluarga: Growth Mindset.

Materi ini saya dalemin dari dua sumber keren: artikel Prof. Carol Dweck di Harvard Business Review - What Having a Growth Mindset Actually Means, dan tulisan Dr. Tchiki Davis di Psychology Today tentang 15 cara membangunnya. Ternyata, apa yang kita kira selama ini tentang growth mindset itu banyak melesetnya.

Yuk kita bedah bareng-bareng, sebagai renungan diri kita.

Growth Mindset Itu Bukan Sekadar Kata Motivasi

Definisi aslinya simpel banget.

Orang dengan Fixed Mindset percaya: bakat itu hadiah lahir. Udah paten. Kalau pinter ya pinter, kalau enggak ya nasib.

Orang dengan Growth Mindset percaya: kemampuan dasar itu bisa dibangun. Lewat kerja keras, strategi yang bener, dan mau dengerin masukan orang lain.

Bedanya di mana? Orang fixed sibuk menjaga image biar keliatan pinter. Orang growth sibuk belajar biar beneran pinter. Makanya dalam jangka panjang, yang growth biasanya jalannya lebih jauh.

Di perusahaan pun sama. Perusahaan dengan growth mindset, karyawannya merasa lebih didukung buat kolaborasi dan inovasi. Kalau fixed mindset yang dominan, yang muncul malah saling sikut, takut ngaku salah, bahkan curang biar keliatan paling hebat.

Dan karena istilah ini jadi buzzword, banyak perusahaan tempel di visi misi, tapi gak beneran dihidupin. Di sinilah kita sering kejebak.

Kita Hidup di Zaman yang Memuja Bakat Instan

Coba jujur. Kita hidup di era yang gila bakat instan kan?

Lihat anak 19 tahun jadi miliarder di TikTok, kita langsung mikir, "Dia emang berbakat."
Lihat teman seangkatan naik jabatan duluan, kita langsung mikir, "Ya dia emang orang dalam."

Padahal ini racunnya.

Inilah inti Fixed Mindset: Percaya kalau kepintaran, bakat, karakter itu udah paten dari lahir. Udah di-cetak. Gak bisa diapa-apain.

Sedangkan Growth Mindset itu keyakinan yang berani: "Tangan yang saya dapat hari ini cuma titik awal. Bukan vonis akhir."

Orang fixed mindset menghabiskan seluruh energinya buat keliatan pintar. Orang growth mindset menghabiskan energinya buat jadi pintar. Beda tipis, hasilnya beda langit dan bumi.

Dweck ngebuktiin: Di perusahaan yang isinya orang-orang fixed mindset, yang subur adalah budaya saling sikut, nutupin kesalahan, dan bahkan curang. Karena semua orang lagi lomba keliatan paling hebat.

Di perusahaan yang growth mindset-nya hidup, yang subur adalah rasa aman buat bilang "Saya salah", buat minta tolong, dan buat kolaborasi. Bukan karena mereka lebih pinter, tapi karena mereka gak takut keliatan bodoh.


Tiga Jebakan yang Sering Kita Anggap Bener

Ini yang dilurusin langsung sama Prof. Dweck:

Jebakan #1: "Saya sih udah growth mindset dari dulu orangnya."

Kita sering ngerasa kita kan open-minded, positif, fleksibel, jadi pasti growth mindset dong. Padahal itu namanya false growth mindset.

Faktanya, gak ada orang yang 100% growth mindset. Kita itu campuran. Hari ini kita bisa growth banget pas ngerjain hal yang kita suka. Besok bisa langsung fixed total pas dikritik di grup WhatsApp kantor.

Mengakui kalau kita masih punya sisi fixed itu bukan aib. Justru itu langkah pertama biar bisa tumbuh beneran.

Jebakan #2: "Yang penting usahanya, hasil belakangan."

Kalimat ini sering banget bikin salah kaprah.

Usaha tanpa belajar dan tanpa kemajuan itu namanya usaha yang gak produktif. Dan itu gak perlu dirayakan.

Yang perlu kita hargai bukan cuma lemburnya sampai jam 2 pagi, tapi apa yang kita pelajari dari lembur itu. Apakah kita coba strategi baru? Apakah kita berani minta bantuan? Apakah kita pakai kegagalan kemarin buat benerin hari ini?

Hasil tetap penting, tapi hasil keren itu lahir dari proses yang dalam.

Jebakan #3: "Tempel aja tulisan growth mindset di dinding, pasti budaya berubah."

Nilai di dinding itu akan kosong kalau kebijakannya gak mendukung.

Perusahaan yang beneran growth mindset itu: ngasih ruang buat ambil risiko yang wajar, tetap menghargai pelajaran dari proyek yang gagal, mendorong kolaborasi bukan kompetisi antar tim, dan ngasih kesempatan tumbuh buat semua orang, bukan cuma buat yang dianggap "berbakat" aja.


Terus Gimana Cara Kita Melatihnya? Ini 15 Latihan Harian

Kalau di sesi Aspire kemarin, kita diajak gak cuma paham teori, tapi praktek. Nah, dari tulisan Dr. Tchiki Davis, ada 15 cara yang bisa kita latih. Biar gampang diinget, saya ringkas jadi 4 pilar:

PILAR A: BERDAMAI DENGAN DIRI KITA SENDIRI

1. Akui dan peluk ketidaksempurnaan. Kayak tahi lalat Marilyn Monroe, kekurangan kita itu yang bikin kita unik. Gak usah nunggu sempurna baru bergerak.

2. Berhenti haus validasi orang lain. Kita adalah satu-satunya orang yang akan selalu ada buat diri kita seumur hidup. Belajar percaya sama diri sendiri.

3. Berani jadi autentik. Pura-pura jadi orang lain itu capek dan gak menghargai diri kita. Jadi diri sendiri butuh waktu dan kerja batin, tapi di situlah tujuan asli kita ketemu.

4. Definisikan ulang arti jenius. Kita semua punya kuat dan lemah. Gak usah maksa jadi jago di semua hal. Hargai kekuatan kita, perbaiki kelemahan kita pelan-pelan.

5. Miliki sikap kita. Kalau kita memang mau punya growth mindset, ya kita yang harus usahain. Gak ada yang bisa minjemin. Tumbuhkan resiliensi di sepanjang jalan.

PILAR B: JAGA PIKIRAN DAN KATA-KATA KITA

6. Perhatiin kata-kata dan pikiran kita. Kalau yang keluar dari mulut dan kepala kita isinya gelap dan nyinyir, hasilnya juga gelap. Ganti menghakimi dengan menerima, ganti benci dengan empati.

7. Ubah kritik jadi hadiah. Kritik itu tujuannya bikin sesuatu jadi lebih baik. Orang lain lihat dari sudut yang gak kita lihat. Kalau kita buka telinga, kita dapat saran gratis yang berharga.

8. Belajar dari kesalahan orang lain. Gak harus jatuh dulu baru belajar. Dengan lihat kesalahan orang lain, kita bisa mengurangi rasa takut buat mencoba hal baru.

9. Biasakan kata "belum". Bukan "saya gagal", tapi "saya belum berhasil". Satu kata "belum" itu ngasih ruang buat waktu dan latihan buat kita berkembang.

PILAR C: BERANI BERGERAK DAN MENIKMATI PROSES

10. Hadapi tantangan dengan berani. Ubah kata "tantangan" jadi "petualangan". Rasa takut itu wajar, tapi kita tetap jalan karena ini seru dan baru.

11. Berani ambil risiko di depan orang lain. Jangan terlalu jaim. Berani salah di depan orang lain. Kalau kita lagi tumbuh, pasti bakal kelihatan canggung. Makin sering latihan, makin biasa.

12. Hargai proses, bukan cuma hasil akhir. Ingat, yang penting itu perjalanannya, bukan cuma destinasinya.

13. Realistis. Belajar bahasa baru, belajar alat musik, jadi pengacara yang handal, semua butuh waktu. Kadang lama banget. Sadar ini bikin kita gak gampang nyerah.

14. Kecepatan itu gak penting. Growth mindset itu gak lomba siapa paling cepat sampai. Tapi siapa yang paling menikmati dan ngasih usaha penuh di setiap prosesnya. Anehnya, kalau fokus ke proses, hasilnya malah biasanya lebih bagus.

PILAR D: TEMUKAN ARAHNYA

15. Rawat rasa tujuan hidup. Apakah hidup kita terasa punya tujuan? Kalau iya, definisikan tujuan itu. Kalau masih blank, coba renungkan, meditasi, tanya ke dalam diri: apa esensi tujuan kita? Begitu ketemu, kejar. Tujuan itulah yang akan jadi bahan bakar growth mindset kita.


Sebuah Renungan Buat Kita

Di akhir sesi Aspire Leadership Program itu, saya baru sadar.

Growth mindset itu bukan tentang jadi orang yang paling semangat di ruangan. Tapi tentang jadi orang yang paling jujur sama proses belajarnya sendiri.

Kita semua punya fixed-mindset persona di kepala kita. Dia muncul pas kita dapat tantangan, dapat kritik pedas, atau pas lihat teman lebih sukses. Dia akan berbisik, "Udah, nyerah aja, kamu emang gak bakat. Malu-maluin aja."

Jangan dimusuhin. Kenali dia. Ajak dia ngobrol, "Oke, aku tau kamu lagi takut dan mau ngelindungin aku. Makasih ya. Tapi kali ini kita coba hadapi bareng. Kita fokus belajar aja."

Ini kerja keras seumur hidup. Tapi dari sinilah kita jadi lebih kenal siapa kita, apa yang kita perjuangkan, dan mau melangkah ke mana.

Jadi, hari ini, suara fixed mindset di kepala kita lagi ngomong apa ke kita?


Referensi materi: Carol Dweck - HBR (2016) & Tchiki Davis, Ph.D - Psychology Today (2019).

Teguh Tri Sasongko

Menasihati diri sendiri merupakan salah satu tugas yang tersulit. Karena yang akan melawan nasihat tersebut, adalah diri sendiri.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak