Goals vs Habits



Goals merupakan tujuan yang ingin diraih. Bentuknya dapat berbentuk sifat atau benda. Contohnya, “menjadi orang baik,” “memiliki kapal pesiar,” “menjadi presiden melalui jalur independen pada tahun 2024.” Kejelasannya bisa bervariasi; bisa selonggar definisi orang baik atau sejelas menjadi presiden dengan jalur tertentu pada kurun waktu tertentu. Goals dapat dipahami sebagai sebuah titik. Guna menuju ke titik tersebut, ada garis yang menjadi sarananya. Garis ini ibaratnya adalah habits.

Habits merupakan tingkah laku yang terus diulang hingga membentuk pola. Bentuknya aktivitas, bukan benda atau sifat selayaknya goals. Jadi, bisa dibayangkan kira-kira bentuknya seperti, “membereskan tempat tidur,” “berlatih bahasa Inggris untuk TOEFL,” “melakukan push-up setelah bangun tidur selama 5 menit.” Bisa dilihat bahwa habits, seperti goals, juga bertingkat-tingkat dalam kejelasan aktivitasnya ya. Namun, pembeda yang paling jelas antara habits dengan goals ada pada sifat habits yang repetitif.

Oleh karena terus menerus diulang, habits sebenarnya merupakan cicilan latihan yang dibutuhkan untuk meraih goals. Goal berupa “menjadi koki handal” bisa dicapai dengan habit “mencincang dada ayam,” “mengulek sambal,” dan “mengiris daun bawang,” setiap pagi. Maka, goals adalah hasil, sementara habits adalah proses. Nah, perbedaan ini yang membuat harus fokus terhadap habits, bukan goals.

Dampaknya, bisa saja meraih banyak goals berkat serangkaian habits yang sama. Goals untuk jadi menantu yang jago masak dan menjadi pemenang Masterchef bisa sama-sama diraih lewat latihan masak berulang-ulang melalui pembiasaan. Maka, habits jadi punya fleksibilitas yang tinggi dibanding goals, sehingga perlu diprioritaskan.

Dalam buku Atomic Habits, James Clear menyebutkan kelemahan-kelemahan goals:
  1. Pemenang dan pecundang sama-sama memiliki goals. Masalahnya, kita terlalu sering disajikan dengan kisah dan pengalaman sukses daripada tragedi dan kegagalan. Padahal, belum pasti kisah sukses tersebut merupakan kasus mayoritas dari orang-orang yang punya goals. Ini hasil framing semata, sehingga orang yang sukses mencapai goals-nya saja yang muncul di media, cerita, dan legenda. Jangan salah berlogika: orang sukses mungkin harus punya goals, tapi punya goals tidak serta merta bikin sukses.
  2. Meraih sebuah goal hanya menimbulkan perubahan sementara. Bayangkan kalau punya goal untuk menjadi seorang programmer. Akhirnya, yang dilakukan hanya mendekam di kamar dan melahap semua kursus online tentang programming dalam waktu singkat. Kemungkinannya bisa saja mahir dalam programming, tapi perubahan yang terjadi dalam diri hanya bersifat sementara. Kenapa? Karena tidak melewati proses utuhnya, sehingga hampir pasti tak sempat mengembangkan karakteristik khas seorang programmer. Paham bahasa pemrograman, tapi tidak tahan banting terhadap kegagalan. Wajar saja, karena tidak mencicipi prosesnya. Perubahan tidak permanen; sejatinya belum menjadi programmer.
  3. Goals menciptakan definisi kebahagiaan yang kaku. Dalam mengejar sebuah goal, cuma ada dua kondisi yang mungkin terjadi: berhasil atau gagal. Jadinya, kebahagiaan akan terikat oleh ketercapaian goal tersebut. Mungkin saja jadi berpikir, “Kalo gitu mah yaudah, bikin goals yang kecil-kecil aja supaya bisa gampang dicapai.” Nah, kalau memutuskan untuk membaginya dalam satuan yang lebih kecil, pada dasarnya sedang bikin habits, bro! 
Ingat, definisi habits ‘kan mencakup 
1) berbentuk aktivitas dan 
2) repetitif, 
Jadi itu sebenarnya yang dibutuhkan sebagai sub-goals. Sub-goals tidak bisa berbentuk benda atau sifat, sebab itu sulit dijalankan. “Orang kaya,” atau “rajin,” pasti sangat sukar untuk dikerjakan, ‘kan?

Jadi, kesimpulannya membuat habits itu jauh lebih efektif dalam membantu dan berkembang daripada sekadar menetapkan goals. Akan tetapi, bukan rahasia bahwa habits itu susah dibangun. Butuh konsistensi dan motivasi yang tinggi untuk membentuk sebuah habits. 

Setelah berkomitmen untuk membentuk identitas yang baru, sisanya mudah saja tinggal memerhatikan empat unsur yang secara psikologis mengatur tingkah laku. 

Menurut James Clear, dalam buku Atomic Habits, keempat unsur tersebut adalah:
  1. Cue (sinyal)
  2. Craving (hasrat)
  3. Response (respons)
  4. Reward (hadiah)
Pertama, cue (sinyal). 
Mungkin tidak sadar, hampir seluruh tingkah laku didorong oleh sinyal-sinyal khusus di lingkungan. Notifikasi di HP, iklan di Instagram, gambar makanan di baliho. Semuanya merupakan sinyal-sinyal yang membuat melakukan sesuatu.

Kedua, craving (hasrat). 
Hasrat adalah implikasi langsung dari cue yang dtangkap di lingkungan. Sederhananya, hasrat ini hadir karena pernah merasakan kenikmatan dari sesuatu yang memberi sinyal tersebut. Misalnya, jika pernah merasakan nikmatnya merokok, besar kemungkinan akan merasakan hasrat/craving, ketika melihat rokok. Atau ketika selesai makan, mulut terasa “asam” jika tidak merokok. Itu berarti aktivitas makan telah menjadi sinyal untuk melakukan kebiasaan merokok.

Ketiga, response (respons). 
Masalahnya, hasrat yang muncul tadi pasti membuat tidak nyaman. Geregetan rasanya, ingin memenuhi hasrat tersebut, misalnya mulut asam setelah makan bagi para perokok. Notifikasi Instagram juga mungkin menimbulkan hasrat yang mengganggu jika dibiarkan, sehingga membuat langsung sigap membuka aplikasinya. Cara memenuhi hasrat ini disebut response, yang selalu berbentuk tingkah laku tertentu. Mulut asam direspons dengan tingkah laku merokok. Rasa penasaran terhadap notifikasi direspon dengan tingkah laku mengklik notifikasinya.

Keempat, reward (hadiah). 
Akhirnya, apa yang terjadi setelah merespons hasrat yang mengganggu itu? merasa lega. Kelegaan ini meruoakan reward, hadiah bagi respons yang sudah dikeluarkan. Asam di mulut tersebut lenyap setelah merokok, rasa penasaranm tersingkap karena mengklik notifikasi. Ini memuaskan, sehingga rangkaian sinyal-hasrat-respons tadi terekam dalam otak dan akan muncul berulang-ulang. Semakin sering diulang, rangkaian tersebut akan semakin berlangsung semakin otomatis. Lama-lama, ini menjadi sebuah kebiasaan alias habits.


Referensi :
Clear, J. (2018). Atomic habits. New York, NY: Penguin Random House.

Materi ini diambil dari Pelatihan Leaders Academy Indonesia Habits Series, Pemimpin ID

Teguh Tri Sasongko

Menasihati diri sendiri merupakan salah satu tugas yang tersulit. Karena yang akan melawan nasihat tersebut, adalah diri sendiri.

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak